Jumat, 30 November 2012

CVO Untuk Kesehatan

 


A. Sejarah Minyak Kelapa
Tanaman kelapa banyak tumbuh di daerah tropis sehingga minyaknya disebut juga minyak tropis (Tropical oil). Minyak kelapa merupakan salah satu hasil olahan dari buah kelapa (Cocos nucifera). Dulu minyak kelapa yang dikenal dengan nama minyak kelentik biasa digunakan di dapur oleh nenek untuk menyemir rambutnya agar hitam berkilau dan subur. Sejak dahulu, tradisi mengkonsumsi minyak kelapa sudah dikenal oleh masyarakat Indonesia. Misalnya ibu yang akan melahirkan selalu dianjurkan untuk mengkonsumsi minyak kelapa setengah gelas menjelang melahirkan agar proses persalinan menjadi lebih mudah dan lancar. Tidak hanya itu ASI pun menjadi lebih lancar.
Sejak jaman dahulu, minyak kelapa sudah sering digunakan. Namun dalam dekade 90-an minyak kelapa hilang dari peredaran. Hal ini dikarenakan adanya perang dagang antara produsen sayur yang terdiri dari minyak jagung, minyak kedelai, minyak kanola dari negara barat dengan produsen minyak kelapa yang berasal dari negara tropis. Dengan menyebarkan isu negatif bahwa minyak kelapa sebagai sumber penyakit. Banyak pakar gizi yang tidak mampu membantah isu itu sehingga minyak kelapa ditakuti dan dijauhi banyak orang.
Menurut guru besar Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Dr. Walujo S. Soerjodibroto, MSc, SpG(K), minyak kelapa sebenarnya memiliki kelebihan yaitu 50% asam lemak pada minyak kelapa adalah asam laurat dan 7% adalah asam kapriat. Kedua asam tersebut merupakan asam lemak jenuh rantai sedang yang mudah dimetabolisme dan bersifat antimikroba (antiirus, antibakteri dan antijamur) sehingga dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Selain itu ternyata hasil pemecahan lemak jenuh rantai sedang jarang disimpan sebagai lemak dan jarang menumpuk di pembuluhdarah. Minyak kelapa memiliki kadar asam lemak tidak jenuh ganda omega-3 EPA dan DHA yang dapat menurunkan kolesterol VLDL, viskositas darah, menghambat tromboksan serta mencegah penyumbatan pembuluh darah. Asam lemak dalam minyak kelapa banyak mengandung asam lemak rantai sedang (Medium chaind fatty acid) yang berfungsi memperbaiki asam lemak tubuh secara sinergis dengan asam lemak esensial. Dengan mengkonsumsi MCFA bisa meningkatkan efisiensi asam lemak esensial sebesar 100%. Kandungan MCFA minyak kelapa juga sama seperti air susu ibu (ASI) yaitu memberi gizi dan melindungi tubuh dari penyakit menular dan penyakit degeneratif.
Persisnya tahun 60-an mulai diteliti kembali oleh Prof. Jon J Kabara dari Universitas Michigan. Kini setelah pamornya dihidupkan kembali oleh media barat, minyak kelapa berhasil menaikkan pamornya kembali. Namun saat ini minyak kelapa tidak lagi digunakan sebagai minyak goreng tetapi minyak yang berkhasiat obat.

B. Sifat Fisika Kimia Minyak
Sebelum mengenal lebih jauh mengenai minyak kelapa, perlu diketahui sifat fisik dan kimia minyak untuk memudahkan penjelasan beberapa istilah di minyak kelapa.
Pada prinsipnya minyak atau lemak dibutuhkan oleh tubuh manusia, bahkan merupakan nutrisi yang sangat penting. Hal ini karena lemak berfungsi sebagai pelarut vimtain A, D, E, K dan karotenoid. Bahkan lemak mampu menghasilkan energi sebesar 9 kkal lebih besar dari karbohidrat dan protein yang menghasilkan energi sebesar 4 kkal. Sumber lemak dapat diperoleh dari hewani dan nabati. Lemak nabati dapat diperoleh dari minyak goreng.
Berdasarkan ada atau tidaknya ikatan rangkap, asam lemak dibagi 3 jenis :
  • Asam lemak jenuh (Saturated fatty acid)
    Contoh : asam laurat
  • Asam lemak tak jenuh rantai tunggal (Monounsaturated fatty acid)
    Contoh : asam oleat dll
  • Asam lemak tak jenuh rantai ganda (Polyunsaturated fatty acid)
    Contoh : asam linoleat dll
Berdasarkan panjang rantai Carbon, asam lemak dibagi menjadi :
  • Asam lemak rantai pendek / short chain fatty acid (SCFA)
    • 2-6 Carbon
    • contoh: asam cuka
  • Asam lemak rantai sedang / medium chain fatty acid (MCFA)
    • 8-12 Carbon
    • contoh: minyak kelapa
  • Asam lemak rantai panjang / long chain fatty acid (LCFA)
    • 14-24 Carbon
    • contoh: minyak sayur

Biasanya minyak goreng digunakan dalam kegiatan masak memasak. Pada proses menggoreng minyak berfungsi sebagai medium penghantar panas, penambah nilai gizi dan kalori makanan yang digoreng. Pemanasan yang berlebihan pada minyak goreng dapat mengubah asam lemak tak jenuh menjadi gugus peroksida dan radikal bebas lainnya Hal ini pada jangka panjang dapat memicu terjadinya kanker. Selain itu menggunakan minyak goreng berulang-ulang dapa tjuga mengubah asam lemak tak jenuh menjadi asam lemak trans yang dapat meningkatkan kolesterol LDL dan menurunkan HDL sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung koroner. Oleh karena itu pemilihan jenis minyak goreng yang tepat menjadi sangat penting.

C. Minyak Kelapa vs Minyak Lainnya
Stabilitas minyak goreng dipengaruhi oleh ketidakjenuhan asam lemak yang dikandungnya dan banyaknya ikatan rangkap. Ada tidaknya bahan lain juga dapat mempercepat proses kerusakan minyak. Biasanya bahan minyak goreng diperoleh dari kelapa, kedelai, jagung, biji bunga matahari, biji kapas dan wijen. Secara keseluruhan semua minyak goreng tersebut mengandung berbagai jenis asam lemak.
Minyak goreng yang beredar di pasaran mengandung asam lemak rantai panjang. Hal ini berbeda dengan minyak kelapa yang mengandung asam lemak rantai sedang (>90%), sedangkan kandungan asam lemak rantai panjangnya kurang dari 8%.
Minyak yang berasal dari biji kapas, biji bunga matahari, kedelai dan kacang-kacangan mengandung asam lemak tak jenuh cukup tinggi sehingga jika terjadi kontak dengan udara pada suhu tinggi akan cepat teroksidasi, akibatnya akan mudah berbau tengik. Selain itu jika dipanaskan akan mengalami penggumpalan sehingga menjadi lebih kental dan membentuk asam lemak trans. Jika dipakai dalam jangka waktu panjang dapat menimbulkan penyakit hipertensi, kanker, kolesterol, gangguan pembuluh darah, jantung dan stroke.
Asam lemak jenuh rantai panjang yang dimiliki oleh minyak sayur dalam sistem metabolisme berisiko menimbulkan penyakit karena tidak bisa langsung diserap oleh tubuh. Asam lemak rantai panjang akan mengalami proses emulsi yang selanjutnya dengan bantuan enzim dari pankreas diuraikan menjadi unit yang lebih kecil yaitu asam lemak bebas yang dapat diserap langsung oleh dinding usus. Asam lemak itu masuk aliran darah dalam bentuk lipoprotein yang akan diangkut ke hati untuk diubah menjadi energi, kolesterol dan sisanya ditimbun di jaringan lemak. Penimbunan yang terus menerus dapat menyebabkan kegemukan/obesitas sehingga risiko tinggi terkena darah tinggi, penyempitan pembuluh darah, serangan jantung, stroke, diabetes dan lain-lain.
Berbeda dengan minyak goreng lainnya, minyak kelapa mengandung asam lemak jenuh rantai sedang dan pendek yang tinggi, yaitu sekitar 92%. Asam lemak jenuh dalam minyak kelapa terutama adalah asam laurat, sekitar >50%. Dalam tubuh asam laurat diubah menajdi monolaurin yang mengandung antiobiotik alami sehingga mampu membunuh berbagai jenis kkuman, virus, mikroorganisme dengan cara merusak membran yang membungkus sel yang terdiri dari asam lemak. Selain itu kandungan asam larutanya setara dengan kandungan dalam air susu ibu (ASI).
Sifat istimewa ini membuat minyak kelapa menjadi lain dari minyak goreng lainnya. Asam lemak jenuh rantai sedang pada minyak kelapa tidak menimbulkan penyakit karena mudah diserap tubuh dan cepat diubah menjadi energi. Dalam pencernaan, minyak kelapa tidak membebani kerja pankeras sehingga tidak menyebabkan terjadinya diabetes dan tidak memperburuk kondisi penderita diabetes. Manfaat asam lemak jenuh dalam minyak kelapa sama seperti pada ASI yaitu memberi zat gizi dan melindungi tubuh dari penyakit menular dan penyakit degeneratif. Kandungan MCFA dapat digunakan sebagai suplemen untuk mendapatkan energi lebih cepat karena proses metabolisme yang cepat.
Untuk mendapatkan manfaat bagi kesehatan, minyak kelapa dapat dikonsumsi secara langsung ataupun digunakan untuk menggoreng atau menumis makanan. Dengan struktur kimia asam lemak jenuh yang tidak memiliki ikatan rangkat maka minyak kelapa relatif lebih tahan terhadap panas, cahaya dan oksidasi sehingga memiliki daya simpan yang lama.

D. Minyak Kelapa Murni vs Minyak Kelapa Lainnya
Minyak kelapa sendiri ada 3 jenis yaitu :
  • Minyak kelapa komersial / RBD-Coconut Oil (Refined, Bleaching, Deodorized)
    Minyak kelapa komersial (RBD) dibuat dari kelapa kopra, yaitu daging kelapa yang dikeringkan. Hasil ekstraksi kopra berupa minyak mentah. Jika belum dimurnikan minyak ini tidak layak dikonsumsi karena proses pengeringan kopra tidak memperhatikan sanitasi.
    Minyak ini selanjutnya diproses dengan pemurnian, pemutihan dan penghilangan aroma. Ketiga metode tersebut menggunakan bahan kimia dan pemanasan tinggi. Pemanasan lebih dari 200 ° C akan menyebabkan terjadinya perubahan struktur molekul asam lemak menjadi asam lemak trans. Proses tersebut mengakibatkan sebagian kandungan bahan aktif dalam minyak menjadi hilang.
  • Minyak kelapa tradisional / Traditional Coconut Oil Minyak kelapa yang dikenal dengan nama kelentik dan dulu banyak digunakan oleh masyarakat di pedesaan, sekarang jarang sekali ditemukan di pasaran. Kualitas minyak kelapa sangat dipengaruhi oleh asal dan kualitas bahan baku serta proses pembuatan. Minyak kelentik diproses dengan pemanasan 110-120 ° C sehngga menghasilkan minyak yang berwarna kuning dan relatif mudah tengik.
  • Minyak kelapa murni / Virgin Coconut Oil
Pembuatannya dilakukan dengan suhu rendah (<60 ° C). Keunggulan dari minyak yang diproses seperti ini adalah struktur kimia terutama MCFA tidak berubah. Selain itu tanpa proses pemutihan dan hidrogenasi sehinggan menghasilkan minyak murni dengan kandungan zat aktif yang tinggi.
Untuk mendapatkan VCO berkualitas tinggi diperlukan ketelitian yang tinggi. Jika terjadi kesalahan dalam proses pembuatan akan menghasilkan minyak yang kualitasnya rendah. Kualitas VCO dipengaruhi oleh beberapa faktor. Syarat VCO berkualitas baik antara lain :
  • Terbuat dari buah kelapa segar
  • Terbuat dari kelapa varietas asli, bukan kelapa hibrida
  • Tanpa penyulingan
  • Tanpa proses pemutihan
  • Tanpa melalui proses deodorisasi
  • Tidak mengalami proses hidrogenasi
  • Bebas dari bahan kimia tambahan
  • Bebas dari mikroorganisme
  • Kadar air kurang dari 0.1%
  • Pemanasan <60 ° C

Ada 3 jenis pembuatan VCO yaitu :
  • Dengan teknik pemanasan sedang
    • kelemahan: jika pemanasan dalam suhu terlalu tinggi maka santan akan rusak sehingga khasiat VCO akan berkurang
  • Dengan teknik fermentasi
    • kelemahan: jika terdapat kontaminasi pada bahan fermentor maka jumlah VCO yang dihasilkan tidak optimal
  • Dengan teknik sentrifugasi
    • kelemahan: butuh investasi lebih besar
    • Tahapan pembuatan VCO sentrifugal:
      • Ambil kurang lebih 10 butir kelapa tua, buang lapisan kulit luar dari kelapa
      • Parut kelapa dan peras santan dengan air suam-suam kuku
      • Diamkan santan dalam wajan berkeran selama 15-30 menit. Biarkan lapisan kanil atau krim santan terpisah dari lapisan air
      • Pisahkan lapisan kanil dan air dengan cara membuka keran
      • Berikan putaran dengan kecepatan sedang menggunakan mixer pada lapisan kanil yang telah dipisahkan
      • Diamkan selama 2-4 jam hingga terbentuk lapisan air, minyak dan blondo
      • Pisahkan minyak dengan teknik penyaringan bertingkat. Penyaringan pertama menggunakan saringan antikarat berukuran 200 mesh, kedua dengan kertas saring ukuran 400 mesh dan terakhir dengan kertas tisu tanpa parfum. Minyak yang terakhir ini adalah VCO.
Beragam skala produksi VCO dijalanan produsen, mulai dari para ibu rumah tangga sampai perusahaan besar. Cara pengolahan juga beragam yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Tips memilih VCO yang baik :
  • Pilih VCO yang jernih, tidak berwarna apalagi keruh. VCO yang jernih menandakan kemurniannya.
  • Jangan konsumsi VCO yang sudah tengik. Ini meunjukkan bahwa asam lemaknya telah teroksidasi sehingga mutu dan manfaatnya rusak, sehingga terbentuk radikal bebas.

E. Manfaat VCO Bagi Kesehatan
Secara tradisional digunakan untuk membantu mengatasi penyakit seperti :
  • Infeksi bakteri, virus, jamur
  • Menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah
  • Osteoporosis
  • Diabetes melitus
  • Menjaga fungsi liver
  • Obesitas
  • Kanker
  • Stamina
  • dan lain-lain
  • Merupakan antibakteri, antivirus, antijamur dan antiprotozoa alamiah
  • Di dalam tubuh, asam laurat akan diubah menjadi monolaurin dan asam kaprat menjadi monokaprin Keduanya bersifat sebagai antivirus, antibakteri, antijamur dan antiprotozoa. Karena struktur membran asam lemak jenuh VCO menyerupai membran lemak dari virus/bakteri serta ukuran molekul VCO kecil maka VCO mudah masuk ke dalam membran dan menghancurkan mikroorganisme.
  • Menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah
  • Penelitian menunjukkan adanya hubungan penyakit jantung dan pembuluh darah & infeksi virus / bakteri yang akan menyebabkan pembentukan plak di pembuluh darah.. Karena VCO bersifat antibakteri / virus maka dapat membantu mencegah pembentukan plak dengan cara membunuh mikroorganisme pencetus timbulnya plak.
  • Selain itu, s alah satu penyebab penyakit jantung adalah kadar kolesterol darah yang tinggi. Penumpukan kolesterol disebabkan konsumsi lemak yang berlebihan dalam menu sehari-hari sehingga kelebihannya disimpan dalam tubuh. Dalam VCO terdapat MCFA yang mudah dimetabolisme untuk menghasilkan energi tidak ditimbun sebagai lemak tubuh. S elain itu konsumsi rutin VCO juga mencegah terjadinya pengentalan darah (akibat agregasi trombosit) dan mencegah terjadinya penyempitan pembuluh darah (aterosklerosis).
  • Osteoporosis
  • Osteoporosis adalah merupakan penyakit degeneratif akibat kekurangan kalsium sehingga tulang menjadi keropos. Osteoporosis dapat disebabakan oleh radikal bebas yang teroksidasi pada proses pembentukan tulang. Radikal bebas dapat diatasi oleh kandungan lemak jenuh yang terkandung dalam VCO. Asam lemak dalam VCO berfungsi sebagai antioksidan sehingga akan melindungi tulang dari radikal bebas perusak tulang.
    Salah satu antioksidan dalam VCO adalah senyawa sterol. Zat ini seperti lemak dan bermanfaat dalam pembentukan pregnenolon. Adapun fungsinya antar lain untuk memproduksi progesteron bagi wantia. Bagi wanita ketersediaan progesterone sangat penting karena ketidakseimbangan jumlah progesteron dan estrogen akan menyebabkan osteoporosis.
    Konsumsi VCO juga sagat baik membantu proses penyerapa mineral penting bagi tulang yaitu kalsium dan magnesium.
  • Diabetes
  • Diabetes melitus dikenal juga sebagai kencing manis. Gejala kencing manis terutama terjadi akibat menumpuknya glukosa dalam darah sehingga dikeluarkan bersama urin. Dalam kondisi ini produksi insulin dari pankreas menurun sehingga metabolisme terganggu. Hal ini menyebabkan glukosa tidak bisa masuk ke dalam sel sehingga konsentrasi glukosa darah meningkat. Timbunan glukosa tersebut tidak dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi dan akhirnya dibuang bersama urin.
    Insulin berfungsi mengubah glukosa menjadi energi untuk sel. Glukosa darah tidak dapat langsung digunakan sebagai energi harus ditransfer terlebih dahulu ke dalam sel melalu proses oksidasi dalam sel. Selain itu insulin juga mengubah glukosa menjadi energi cadangan (glikogen dan lemak). Jika glukosa darah berlimpah akan diubah mejadi glikogen dan disimpan di hati dan otot. Sementara lemak disimpan dalam jaringan lemak. Kandungan MCFA dalam VCO mampu merangsang produksi insulin sehingga membantu proses perubahan glukosa menjadi energi untuk sel.
    Selain itu, VCO tidak membutuhkan insulin untuk dapat dibakar untuk menghasilkan energi sehingga hal ini sangat menguntungkan penderita kencing manis yang telah mengalami kekurangan kadar insulin tubuh. Pada saat VCO dibakar turut dibakar pula glukosa dan lemak yang sebelumnya telah tertimbun sehingga kadar gula dalam darah relatif normal.
  • Penyakit Liver
  • Virus hepatitis adalah virus yang memiliki selubung lemak di bagian luarnya sehingga sulit ditembus oleh obat. Struktur asam lemak jenuh rantai sedang dalam VCO memiliki struktur yang mirip selubung lemak virus sehingga VCO dapat menembus masuk dan membunuh virus hepatitis.
    Selain itu VCO juga mencegah kerusakan sel hati akibat radikal bebas yang disebabkan oleh virus, obat atau alkohol karena memiliki efek sebagai antioksidan.
  • Kanker
  • Karena VCO memiliki efek antibakteri maka sel darah putih tersedia cukup untuk menghancurkan dan menghambat pertumbuhan sel kanker. Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa VCO menghambat pertumbuhan sel kanker penyebab kanker kolon dan payudara.
    Selain itu VCO memiliki sifat antioksidan sehingga mencegah pembentukan radikal bebas pemicu timbulnya kanker dan VCO membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh sehingga membantu proses penyembuhan.
  • Menurunkan berat badan
  • MCFA dalam VCO dapat langsung masuk aliran darah dan diubah menjadi energi sehingga tidak ditimbun dalam badan. Pada saat VCO dibakar turut dibakar pula asam lemak jenuh rantai panjang (LCFA) sehingga lemak yang ditimbun menjadi berkurang dan berat badan akan turun.
    Selain itu VCO juga memberi energi dengan cepat sehingga menimbulkan rasa cepat kenyang dan tidak merasa lapar sampai tiba waktu makan Proses pembakaran dan suhu badan menjadi lebih tinggi sehingga metabolisme tubuh meningkat dan terjadi pembakaran cadangan lemak tubuh.
  • Stamina
  • Saat daya tahan tubuh menurun, tubuh mengalami kelelahan fisik yang ditandai dengan lemah otot, sakit kepala, infeksi yang hilang timbul, demam, rasa lelah yang luar biasa dan pembengkakan kelenjar tubuh VCO memberi energi yang cepat dan menambah tenaga serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh sehingga tubuh dapat memulihkan dirinya sendiri.
  • Memelihara kesehatan kulit
  • VCO mengandung pelembab alamiah dan membantu menjaga kelembaban kulit serta baik digunakan untuk kulit yang kering, kasar dan bersisik.
    VCO mengandung asam lemak jenuh rantai sedang yang mudah masuk ke lapisan kulit dalam dan mempertahankan kelenturan serta kekenyalan kulit.
    VCO bersifat antijamur dan bakteri alamiah sehingga membantu mencegah dan mengobati infeksi kulit, termasuk infeksi jamur kulit, eksim, bisul, jerawat, dan lain-lain.
  • Memelihara kesehatan rambut
  • Karena molekul VCO kecil maka dapat masuk ke dalam batang rambut dan mempertahankan kadar protein dalam rambut serta membuat rambut lebih bercahaya dan sehat.
    VCO mengandung pelembab alamiah sehingga menjaga kelembaban dan mencegah kekeringan pada rambut.
    VCO memiliki efek antijamur sehingga baik untuk mencegah dan mengobati ketombe akibat pertumbuhan jamur P. ovale di kulit kepala.
    Lain-lain :
  • Pengganti minyak sayur
    VCO mengandung minyak jenuh rantai sedang yang bersifat lebih tahan terhadap pemanasan sehingga jika dipakai untuk menggoreng tidak cepat rusak.
  • Pengganti selai
    VCO dapat menjadi pengganti selai atau margarine serta sebagai minyak salad.
  • Pelembab bibir
    VCO dapat menjadi pelembab bibir, sebelum memakai pemulas bibir.
  • Pelembab tubuh
  • Agar kulit lebih kenyal, lembab, awet muda serta mencegah noda kehitaman akibat terbakar matahari.

Reaksi awal jika anda mengkonsumsi VCO
Biasanya reaksi awal saat mengkonsumsi VCO berupa perut menjadi mulas sampai diare. Namun, konsumsi sebaiknya diteruskan dengan mengurangi dosisnya dan dengan berjalannya waktu reaksi ini akan berkurang dan menghilang. Disarankan untuk mengkonsumsi VCO secara teratur, minimum 1 bulan untuk melihat efek positifnya.